Rabu, 28 April 2021

REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

 

Takalar 27 April 2021

KONEKSI ANTAR MATERI - KESIMPULAN DAN REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

 

Setelah mempelajari modul 1.1 maka saya mampu memahami pemikiran filosifis pendidikan ki Hadjar dewantara yang meliputi pendidikan yang dapat menuntun anak berbudi pekerti seperti  semboyan yang berbunyi “ ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tutwuri handayani yang menjadi jiwa dari pendidikan nasional. Semboyan itu kami pahami bahwa guru itu mampu menyesuaikan diri di mana pun berada. Jika berada di depan maka mapu menjadi teladan, jika guru berada di tengah maka dia menjadi penyemangat yang dekat di hati siswa, dan jika berada di depan maka guru mampu mendorong dan memotivasi siswa. Dengan  melakukan refleksi kritis atas korelasi pemikiran ki hadjar dewantara dalam konteks budaya lokal. Maka saya dapat mengetahui bahwa masih ada hal yang mesti kami perbaiki. Dari refleksi saya mamenahami cara menjalankan strategi pemimpin pembelajaran demi terwujudnya sekolah sebagai pusat pengembangan karakter dengan budaya positiv. Konsep Proses pembelajaran dengan alur merdeka maka saya sebagai CGP merefleksi pengetahuan dan merefleksi diri tentang pemikiran ki hadjar dewantara. Pada alur eksplorasi konsep kami mengakses video tentang pendidikan indonesia pada zaman kolonial dan kerangka pemikiran ki hadjar dewantara. Dari video tersebut kami dapat membedakan bahwa betapa sulitnya mengenyam pendidikan saat zaman kolonial. Dari video itu kami mengetahui  betapa perjuangan KHD dan sahabatnya sangat luar biasa untuk meraih kemerdekaan untuk hidup dan merdeka belajar. Dari saat itu saya bertambah cinta dengan pahlawan pendidikan kami yang begitu banyak pengerbanan dan sangat ikhlas dalam menjalankan perjuangannya untuk indonesia. 

Materi eksplorasi konsep  dalam diskusi kelompok kami mendapat penguatan dari fasilitator, dan teman CGP tentang pemikiran KHD  dan relefansinya  dengan pendidikan saat ini pada konteks sosial budaya lokal. Di dalam diskusi kami menyepakati peran masing masing yang diterapkan sesuai kesepakatan. kami berbagi pengalaman praktik baiktentang pemkiran filosofis KHD dalam konteks lokal. Ruang kolaborasi memberi kesempatan kami mendesain kerangka pembelajaran sesuai konteks lokal sosial budaya daerah. Refleksi terbimbing kami melakukan refleksipemikiran KHD sebagai pengetahuan dan pengalaman. Demonstrasi kontekstual membuat kami dapat berkarya video yang sejalan dengan pemikiran KHD tentang pendidikan dan pembelajaan. Pada proses berkarya dapat kami pahami bahwa kita perlu tau cara berkolaborasi yang baik untuk menghasilkan karya yang sempurna Elaborasi pemahaman dalam bentuk konfrensi filosofis pendidikan yang di hadiri  oleh ki priyo dari Perguruan Taman Siswa  serta praktik baik beberapa sekolah lain untuk memperluas pemahaman.

Sebelum saya mempelajari modul 1.1 , yang saya pahami tentang murid saya dan pembelajaran di kelas adalah murid itu harus melaksanakan pembelajaran yang memilki standar yang sama di dalam kemapuan atau kompetensi yang harus dicapai. Saat itu saya kurang jeli bahkan mengabaikan kodrat alam dan zaman. Kodrat alam di mana tempat peserta didik berada baik kultur budaya maupun kondisi alam geografis. Kodrat zaman adalah terjadinya perubahan dari waktu ke waktu. Bahkan sekolah mengadakan pembatasan anak anak untuk mengenal zamannya. Seakan kami sengaja menutup mata anak anak agar tak dapat melihat zaman.

Saya jarang konsisten melakukan proses  kesepakatan kelas yang dibuat bersama murid. Saat itu kami Walaupun sudah membuat aturan atau keepakatan kelas namun penegakan aturan yang dibuat masih belum diterapkan secara eksplisit dan konkret. saya sebagai guru kurang tegas di dalam penerapannya. Akibatnya murid tidak terbentuk menjadi pribadi yang disiplin dan mengembangkan budaya musyawarah untuk mufakat secara kontinyu. Demikian pula dalam penerapan kolaborasi kami belum mengadakan pembagian tugas secara tertib. Padahal semua dapat dibicarakan dan dapat menjalankan kesepakatan itu dengan baik. Dalam pembelajaran di kelas Saya kurang konsisten dan tidak terus menerus menerapkan budaya refleksi.

Hal Yang berubah dari perilaku dan pemikiran saya adalah saya berusaha mengenali latar belakang sosial  budaya siswa. Melaksanakan  Pembelajaran yang menuntun anak ibarat peta jalan yang akan dilalui oleh anak .di dalamnya terdapat jalan alternatif dan anak bebas memilih jalan mana yang dianggap baik. Kita sebagai pamong hanya dapat menuntun anak bahwa jalan A dan B memilki konsekwensi masing masing. Keputusan tetap ada pada anak anak. Saya mengubah pembelajaran yang sebelumnya berorientasi pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan sekarang lebih menyeimbangkan budi pekerti, pengetahuan dan keterampilan.

 Hal yang bisa saya terapkan  dalam pembelajaran saya di kelas adalah senantiasa berusaha menerapkan budaya musyawarah dalam membuat kesepakatan kelas. Hal ini saya lakukan pada  setiap memulai pembelajaran. Kebiasaan itu saya tanamkan secara Konsisten guna   menjalankan pendidikan karakter anak. Teknik penanaman karakter sesuai abad 21yakni menghadirkan budaya kreatif, komunikatif, mandiri, kolaboratif dan problem solving. Cara ini kita lakukan supaya tidak mengabaikan kebutuhan dan tuntutan Zaman.  Cara pembentukan karakter dapat pula Dengan komunikasi yang berbudaya lokal seperti pengaplikasian kata kata tebe, senyum,  sapa, dan  salam ketika bertemu teman dan orang lain. Pelestarian budaya lokal sudah menjadi perhatian saya untuk ditanamkan khususnya permainan dolanan anak anak seperti pengenalan permainan longga dalam pembelajaran seni. Longga dapat diambil sebagai strategi pembelajaran yang bermain sambil belajar untuk menyesuaikan kodrat anak yang suka dengan permainan. Saya membiasakan pembelajaran yang membahagiakan dan menerapkan latihan fisik untuk membentuk fisik yang kuat dan bugar. Saya lebih jeli lagi dalam proses pembelajaran yang “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak. {Ki Hadjar dewantara:1922}. Saya berusaha melakukan refleksi setiap menutup pembelajaran. Agar murid dapat mengambil hikmah dari semua yang terjadi dan ada di dalam kehidupan kita.

                                                Salam Bahagia

SUWATI

CGP KAB.TAKALAR

 

“Bangsa yang besar adalah ...

bangsa yang menghargai pahlawannya”

 

REFLEKSI TENTANG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

by  SUWATI S.Pd.           Bagaimana saya dapat melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi secara lebih efektif? Saya dapat melakukan pr...