KONEKSI ANTAR MATERI
NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK
1.
Pemahaman saya mengenai nilai dan
peran Guru Penggerak.
Nilai itu sendiri, menurut Rokeach (dalam Hari, Abdul
H. 2015), merupakan keyakinan
sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri
seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang
dalam mengambil
posisi
khusus dalam
suatu masalah evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga
berfungsi
sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam
kehidupan sehari-hari. Nilai yang perlu
dimilki seorang guru penggerak adalah nilai Mandiri. Mandiri berarti seorang Guru Penggerak
mampu
senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung
jawab
atas segala hal yang
terjadi pada
dirinya. Nilai guru
penggerak yang kedua adalah Reflektif berarti seorang Guru Penggerak mampu senantiasa merefleksikan dan memaknai pengalaman yang
terjadi di sekelilingnya, baik
yang
terjadi pada diri
sendiri serta pihak lain. Nilai guru penggerak yang
ketiga adalah Kolaboratif berarti seorang Guru
Penggerak mampu senantiasa membangun hubungan kerja
yang
positif terhadap
seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah (contoh: orang tua murid dan
komunitas
terkait) dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Guru penggerak memilki nilai
pembelajaran yang Berpihak pada murid disini berarti seorang Guru Penggerak selalu
bergerak dengan mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama. Segala keputusan yang
diambil oleh seorang Guru
Penggerak didasari
pembelajaran murid terlebih dahulu, bukan
dirinya sendiri
Selain dari pentingnya nilai tersebut pada penjelasan sebelumnya, terdapat pula Peran guru penggerak yang perlu Menjadi pemimpin pembelajaran untuk mendorong wellbeing ekosistem pendidikan sekolah. Pemimpin Pembelajaran berarti seorang Guru penggerak dapat menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah, dll. Selain itu peran guru penggerak adalah Menggerakkan komunitas praktik untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Seorang Guru Penggerak berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya. Nilai Kolaborasi adalah guru penggerak Membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru berperan Kepemimpinan Murid Mendorong peningkatan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Peran seorang Guru Penggerak berarti membantu para murid ini untuk mandiri dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter murid di sekolah.
2.
Keterkaitan antara
nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara
Nilai seorang guru penggerak adalah mandiri, inovatif, reflektif, kolaboratif dan berpihak pada murid.Sedangkan peran guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran , menggerakkan komunitas praktik bagi rekan guru, membuka ruang diskusi kolaboratif, kepemimpinan murid untuk menjadi mandiri.nilai dan peran guru sangat erat kaitannya dengan filosofi Ki hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mendapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya. Kita menuntun anak sesuai standar nilai guru penggerak dan menuntun anak sesuai peran mendorong kepemimpinan murid dalam kemandirian.Guru berusaha mengenali latar belakang sosial budaya siswa. Melaksanakan Pembelajaran yang menuntun anak ibarat peta jalan yang akan dilalui oleh anak .di dalamnya terdapat jalan alternatif dan anak bebas memilih jalan mana yang dianggap baik. Kita sebagai pamong hanya dapat menuntun anak bahwa jalan A dan B memilki konsekwensi masing masing. Keputusan tetap ada pada anak anak. Saya mengubah pembelajaran yang sebelumnya berorientasi pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan sekarang lebih menyeimbangkan budi pekerti, pengetahuan dan keterampilan. Hal yang bisa saya terapkan dalam pembelajaran saya di kelas adalah senantiasa berusaha menerapkan budaya musyawarah dalam membuat kesepakatan kelas. Hal ini saya lakukan pada setiap memulai pembelajaran. Kebiasaan itu saya tanamkan secara Konsisten guna menjalankan pendidikan karakter anak. Teknik penanaman karakter sesuai abad 21yakni menghadirkan budaya kreatif, komunikatif, mandiri, kolaboratif dan problem solving. Cara ini kita lakukan supaya tidak mengabaikan kebutuhan dan tuntutan Zaman. Cara pembentukan karakter dapat pula Dengan komunikasi yang berbudaya lokal seperti pengaplikasian kata kata tebe, senyum, sapa, dan salam ketika bertemu teman dan orang lain. Pelestarian budaya lokal sudah menjadi perhatian saya untuk ditanamkan khususnya permainan dolanan anak anak seperti pengenalan permainan longga dalam pembelajaran seni. Longga dapat diambil sebagai strategi pembelajaran yang bermain sambil belajar untuk menyesuaikan kodrat anak yang suka dengan permainan. Saya membiasakan pembelajaran yang membahagiakan dan menerapkan latihan fisik untuk membentuk fisik yang kuat dan bugar. Saya lebih jeli lagi dalam proses pembelajaran yang “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak. {Ki Hadjar dewantara:1922}. Didalam melakukan refleksi setiap menutup pembelajaran perlu pelibatan peserta didik Agar mereka dapat mengambil hikmah dari semua yang terjadi di dalam kehidupan kita.
3.
Strategi yang bisa
dilakukan untuk menjadi Guru penggerak yang
mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan pembelajaran yang berpihak
pada murid adalah senantiasa berbuat sesuatu yang positif mulai dari diri sendiri sebelum
menggerakkan orang lain. Guru perlu
memahami konsep pendidikan yang berpihak pada murid, dan selalu
merefleksi kelebihan dan kekurangan diri serta merefleksi proses belajar
peserta didik agar senantiasa belajar
sesuai qodrat alam dan perkembangan zaman. Guru perlu mengembangkan diri
terutama kemampuan teknologi informasi, mengetahui teknik berkolaborasi yang
sesuai dengan pancasila, memahami karakter peserta didik.
4.
Siapa saja pihak yang dapat membantu Guru
penggerak
dalam mencapai guru penggerak seperti yang dicita citakan
sesuai demonstrasi kontekstual sebagai gambaran diri.
Berbagai pihak yang dapat membantu guru
dalam mencapai guru yang mandiri, inovatif, reflektif, kolaboratif dan berpihak
pada murid adalah peserta didik, warga sekolah termasuk kepala sekolah,
pendidik dan tenaga kependidikan, orangtua dan masyrakat serta pemerintah. Peserta
didik adalah subjek yang menjadi sasaran
utama untuk dididik menjadi pelajar yang berkarakter sesuai dengan nilai
pancasila yakni beriman dan taqwa terhadap Tuhan yang maha esa, berahlaq mulia,
mandiri, bernalar kritis, bergotong royong, kreatif dan berkebhinnekaan global.
Kepala sekolah perlu
mendukung kegiatan guru penggerak sebagai motivator, pemberi semangat kerja
serta memberi fasilitas ruang gerak untuk mewujudkan sekolah yang memilki
lingkungan kerja yang kondusif agar dapat mecapai sekolah yang ramah anak,
ramah guru dan ramah terhadap masyarakat.Kepala sekolah memilki pengaruh
terhadap kebijakan yang diambil khususnya proses pengambilan keputusan kepala
sekolah sangat perlu konsisten terhadap budaya positif khususnya pada
proses musyawarah mufakat. Jika kepala
sekolah tidak dapat menjadi teladan yang baik sesuai dengan karakter yang
diinginkan nilai pancasila maka guru penggerak akan mengalami hambatan didalam menwujudkan sekolah yang mampu mencetak pelajar pancasila.
Kepala sekolah bagaikan cahaya yang menyinari seluruh warga sekolah. Jika
sinarnya redup maka tidak akan cukup menyinari seluruh ruang yang ada di sekolah
tetapi sebaliknya jika kepala sekolah dapat bersinar terang maka seluruh
sekolah dapat menjadi sekolah yang penuh semangat kerja yang tinggi.
Pendidik
merupakan unsur yang berpengaruh terhadap pendidikan untuk mencetak pelajar
pancasila. guru terjun langsung bersama peserta didik berinteraksi dan menjadi
model terdekat bagi peserta didik. Oleh karenanya guru perlu menjadi teladan
yang baik sesuai dengan peran dan nilai
guru yang mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid.
Guru memilki komunitas yang perlu kolaboratif didalam membangun lingkungan
belajar yang berpusat pada murid, guru dapat membuat perencanaan dan
pelaksanaan belajar yang berpusat pada murid. Guru dapat pula menanamkan
pembiasaan refleksi dan perbaikan kualitas belajar yang berpusat pada murid dan
guru dapat melakukan pelibatan orang tua untuk menjadi pendamping dan sumber belajar murid. Guru dapat pula
melakukan pemetaan kebutuhan terkait pembelajaran, guru dapat memberdayakan
guru lain untuk mendampingi dalam peningkatan kualitas belajar. Guru dapat
melatih warga sekolah di dalam menguasai kompetensinya. Guru dapat memimpin
pertemuan refleksi berkala untuk perbaikan kualitas belajar mengajar.
Tenaga
kependidikan dan operator sekolah dapat menjadi model yang baik bagi peserta
didik, memberi pelayanan yang prima, santun bagi murid.jika tenaga kependidikan
khususnya bagian administrasi dapat membantu guru penggerak untuk menyimpan
data pokok peserta didik sehingga guru penggerak dapat mudah mengakses hal hal
yang berhubungan dengan data peserta didik.tu dapat membantu mengolah data dan
bukti terkait proses dan hasil belajar peserta didik.
Orangtua peserta didik merupakan subjek yang paling
besar pengaruhnya terhadap semangat belajar bagi peserta didik. Oleh karenanya
sekolah perlu meningkatkan peran orang tua terhadap pendampingan belajar bagi
peserta didik. Misalnya pihak guru dapat mengkomunikasikan jadwal belajar
peserta didik, Membuat group persatuan
orangtua siswa, pelibatan orangtua dalam musyawarah komite, orangtua dapat ikut
mendapat kesempatan menyampaikan pendapat dan keluhan terhadap pelayanan
belajar anaknya.
Salam Bahagia
Suwati, S.pd
CGP KAB. TAKALAR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar