Jurnal minggu ke 7.
Refleksi Tentang Budaya positif
Kali ini saya belajar tentang budaya
positiv budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah pembiasaan baik yang
sifatnya ingin memperbaiki sesuatu yang berdampak pada kemajuan sekolah. banyak
contoh budaya positif misalnya bergotong royong, menghormati orang lain, senang
membaca, disiplin positif. Guru menjadi teladan, melibatkan murid dalam membuat
kesepakatan kelas. Pendekatan komprehensif, mengapresiasi murid . refleksi
secara berkala dan disiplin tanpa hukuman.
Berbagai cara untuk membangun budaya
positif di sekolah misalnya guru mengontrol budaya dengan berperan menjadi
manajer.manajer adalah orang yang memfasilitasi murid untuk melakukan kegiatan
seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Peran guru sebagai manajer
adalah Guru mendorong pelaksanaan perencanaan secara musyawarah mufakat .Musyawarah
yang dilakukan murid bertujuan menggali gagasan murid tanpa intervensi guru
didalam pengambilan keputusan. Cara membangun budaya positif guru menjadi
teladan dimaksudkan murid dapat melihat penerapan budaya positif secara
langsung agar murid tidak kehilangan landasan untuk berbudaya positif.Murid
merasa memilki kesamaan rasa, kesamaan kedudukan dengan guru .Disanalah murid
merasa tidak ada kesenjangan antara murid dan guru. Selain itu pelibatan murid
dalam kesepakatan kelas akan mendorong rasa tanggung jawab murid atas apa yang
sudah diputuskannya sendiri. Ketika murid memutuskan untuk untuk membuat aturan
maka dia akan merasa memilki aturan tersebut dan murid akan merasa sukses jika
murid dapat menerapkannya.Pendekatan komprehensif secara bijaksana artinya guru
perlu melakukan pendekatan kepada semua pihak baik warga sekolah, orangtua dan
masyarakat untuk mengontrol kegiatan membangun budaya positif. Sesuatu hal yang mempengaruhi karakter murid adalah
lingkungan sekolah , lingkungan tempat tinggal dan teman bermain. Murid perlu
diapresiasi agar memilki semangat untuk maju. Jika murid memilki gagasan atau
ide maka guru segera memberikan tanggapan positif walaupun gagasan itu
sederhana. Kita harus memahami kodrat anak yang memilki gagasan yang sederhana
karena hal itu sudah sesuai dengan fasenya. Bentuk lain dari apresiasi kepada
murid dengan memberikan kesempatan berkarya untuk kemudian diberikan pujian,
tanggapan positif. Bantulah murid mewujudkan gagasannya melaui kalimat
dukungan, memberi sarana dan wadah ekspresi misalnya lomba karya tulis ilmiah,
lomba membuat pantun, seni tari, seni musik dan lain sebagainya.
Refleksi dan inprovisasi merupakan
kegiatan mereviu kembali tentang proses kegiatan dari awal hingga akhir. Murid mengrefleksikan kelebihan dan kelemahan yang telah dilakukan
.kemudian menemukan hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Cara lain
membangun budaya positif adalah menerapkan kedisiplinan tanpa hukuman. Ciri
anak disiplin yaitu menjalankan aturan tanpa rasa paksaan , melakukan dengan
inisiatif dan kesadaran akan pentingnya melakukan aturan. Sedangkan hukuman
biasanya melakukan pendisiplinan dengan kegiatan yang berakibat murid
kehilangan semangat belajar karena merasa dipermalukan, merasa tidak dihargai,
murid merasa diperlakukan tidak adil. Contoh hukuman adalah mennyuruh murid
melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran kompetensi yang ingin
dicapai. Misalnya guru ingin meningkatkan budaya datang ke sekolah tepat waktu
tetapi memberi hukuman dengan membentak, menjewer telinga, menyiksa fisik.
Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran. Mengenali budaya positif saya merasa ternyata
banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk membudayakan hal hal positif tanpa
harus menyiksa murid dengan hukuman yang dapat membuat anak anak trauma.
Pembelajaran apa saja yang didapatkan saat belajar tentang budaya positif adalah identifikasi
permasalahan murid dengan bijaksana, tentukanlah budaya apa yang ingin
dikembangkan di sekolah, hambatan apa yang dialami jika membangun budaya
piositif.Solusi apa yang dapat ditemukan untuk medukung budaya positif.
Hindarilah penerapan hukuman fisik yang menyiksa dan tidak bermanfaat agar
murid merasa dirinya berharga dan tumbuhkanlah rasa percaya diri melalui
penghargaan terhadap ide dan gagasannya. Sebaiknya guru senantiasa meminta
pendapat murid untuk menumbuhkan nalar kritis murid.
Pelibatan komite sekolah/masyarakat dan orangtua sangat
menentukan keberhasilan di dalam membangun budaya positif di sekolah.
Perubahan ke depannya jika saya ingin membuat perubahan dengan membangun budaya positif maka perlu penghargaan guru
terhadap murid, melakukan budaya secara bersama sama dan terus menerus. Identifikasi
budaya positif yang diharapkan kemudian tentukanlah langkah langkah untuk mencapainya dan tentukan
siapa yang akan mendukung budaya positif serta tentukan kapan dan dimana pelaksanaannya.
Jurnal minggu ke 7.
Refleksi Tentang Budaya positif
Kali ini saya belajar tentang budaya
positiv budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah pembiasaan baik yang
sifatnya ingin memperbaiki sesuatu yang berdampak pada kemajuan sekolah. banyak
contoh budaya positif misalnya bergotong royong, menghormati orang lain, senang
membaca, disiplin positif. Guru menjadi teladan, melibatkan murid dalam membuat
kesepakatan kelas. Pendekatan komprehensif, mengapresiasi murid . refleksi
secara berkala dan disiplin tanpa hukuman.
Berbagai cara untuk membangun budaya
positif di sekolah misalnya guru mengontrol budaya dengan berperan menjadi
manajer.manajer adalah orang yang memfasilitasi murid untuk melakukan kegiatan
seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Peran guru sebagai manajer
adalah Guru mendorong pelaksanaan perencanaan secara musyawarah mufakat .Musyawarah
yang dilakukan murid bertujuan menggali gagasan murid tanpa intervensi guru
didalam pengambilan keputusan. Cara membangun budaya positif guru menjadi
teladan dimaksudkan murid dapat melihat penerapan budaya positif secara
langsung agar murid tidak kehilangan landasan untuk berbudaya positif.Murid
merasa memilki kesamaan rasa, kesamaan kedudukan dengan guru .Disanalah murid
merasa tidak ada kesenjangan antara murid dan guru. Selain itu pelibatan murid
dalam kesepakatan kelas akan mendorong rasa tanggung jawab murid atas apa yang
sudah diputuskannya sendiri. Ketika murid memutuskan untuk untuk membuat aturan
maka dia akan merasa memilki aturan tersebut dan murid akan merasa sukses jika
murid dapat menerapkannya.Pendekatan komprehensif secara bijaksana artinya guru
perlu melakukan pendekatan kepada semua pihak baik warga sekolah, orangtua dan
masyarakat untuk mengontrol kegiatan membangun budaya positif. Sesuatu hal yang mempengaruhi karakter murid adalah
lingkungan sekolah , lingkungan tempat tinggal dan teman bermain. Murid perlu
diapresiasi agar memilki semangat untuk maju. Jika murid memilki gagasan atau
ide maka guru segera memberikan tanggapan positif walaupun gagasan itu
sederhana. Kita harus memahami kodrat anak yang memilki gagasan yang sederhana
karena hal itu sudah sesuai dengan fasenya. Bentuk lain dari apresiasi kepada
murid dengan memberikan kesempatan berkarya untuk kemudian diberikan pujian,
tanggapan positif. Bantulah murid mewujudkan gagasannya melaui kalimat
dukungan, memberi sarana dan wadah ekspresi misalnya lomba karya tulis ilmiah,
lomba membuat pantun, seni tari, seni musik dan lain sebagainya.
Refleksi dan inprovisasi merupakan
kegiatan mereviu kembali tentang proses kegiatan dari awal hingga akhir. Murid mengrefleksikan kelebihan dan kelemahan yang telah dilakukan
.kemudian menemukan hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Cara lain
membangun budaya positif adalah menerapkan kedisiplinan tanpa hukuman. Ciri
anak disiplin yaitu menjalankan aturan tanpa rasa paksaan , melakukan dengan
inisiatif dan kesadaran akan pentingnya melakukan aturan. Sedangkan hukuman
biasanya melakukan pendisiplinan dengan kegiatan yang berakibat murid
kehilangan semangat belajar karena merasa dipermalukan, merasa tidak dihargai,
murid merasa diperlakukan tidak adil. Contoh hukuman adalah mennyuruh murid
melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran kompetensi yang ingin
dicapai. Misalnya guru ingin meningkatkan budaya datang ke sekolah tepat waktu
tetapi memberi hukuman dengan membentak, menjewer telinga, menyiksa fisik.
Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran. Mengenali budaya positif saya merasa ternyata
banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk membudayakan hal hal positif tanpa
harus menyiksa murid dengan hukuman yang dapat membuat anak anak trauma.
Pembelajaran apa saja yang didapatkan saat belajar tentang budaya positif adalah identifikasi
permasalahan murid dengan bijaksana, tentukanlah budaya apa yang ingin
dikembangkan di sekolah, hambatan apa yang dialami jika membangun budaya
piositif.Solusi apa yang dapat ditemukan untuk medukung budaya positif.
Hindarilah penerapan hukuman fisik yang menyiksa dan tidak bermanfaat agar
murid merasa dirinya berharga dan tumbuhkanlah rasa percaya diri melalui
penghargaan terhadap ide dan gagasannya. Sebaiknya guru senantiasa meminta
pendapat murid untuk menumbuhkan nalar kritis murid.
Pelibatan komite sekolah/masyarakat dan orangtua sangat
menentukan keberhasilan di dalam membangun budaya positif di sekolah.
Perubahan ke depannya jika saya ingin membuat perubahan dengan membangun budaya positif maka perlu penghargaan guru
terhadap murid, melakukan budaya secara bersama sama dan terus menerus. Identifikasi
budaya positif yang diharapkan kemudian tentukanlah langkah langkah untuk mencapainya dan tentukan
siapa yang akan mendukung budaya positif serta tentukan kapan dan dimana pelaksanaannya.
SALAM
BAHGIA
Jurnal minggu ke 7.
Refleksi Tentang Budaya positif
Kali ini saya belajar tentang budaya
positiv budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah pembiasaan baik yang
sifatnya ingin memperbaiki sesuatu yang berdampak pada kemajuan sekolah. banyak
contoh budaya positif misalnya bergotong royong, menghormati orang lain, senang
membaca, disiplin positif. Guru menjadi teladan, melibatkan murid dalam membuat
kesepakatan kelas. Pendekatan komprehensif, mengapresiasi murid . refleksi
secara berkala dan disiplin tanpa hukuman.
Berbagai cara untuk membangun budaya
positif di sekolah misalnya guru mengontrol budaya dengan berperan menjadi
manajer.manajer adalah orang yang memfasilitasi murid untuk melakukan kegiatan
seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Peran guru sebagai manajer
adalah Guru mendorong pelaksanaan perencanaan secara musyawarah mufakat .Musyawarah
yang dilakukan murid bertujuan menggali gagasan murid tanpa intervensi guru
didalam pengambilan keputusan. Cara membangun budaya positif guru menjadi
teladan dimaksudkan murid dapat melihat penerapan budaya positif secara
langsung agar murid tidak kehilangan landasan untuk berbudaya positif.Murid
merasa memilki kesamaan rasa, kesamaan kedudukan dengan guru .Disanalah murid
merasa tidak ada kesenjangan antara murid dan guru. Selain itu pelibatan murid
dalam kesepakatan kelas akan mendorong rasa tanggung jawab murid atas apa yang
sudah diputuskannya sendiri. Ketika murid memutuskan untuk untuk membuat aturan
maka dia akan merasa memilki aturan tersebut dan murid akan merasa sukses jika
murid dapat menerapkannya.Pendekatan komprehensif secara bijaksana artinya guru
perlu melakukan pendekatan kepada semua pihak baik warga sekolah, orangtua dan
masyarakat untuk mengontrol kegiatan membangun budaya positif. Sesuatu hal yang mempengaruhi karakter murid adalah
lingkungan sekolah , lingkungan tempat tinggal dan teman bermain. Murid perlu
diapresiasi agar memilki semangat untuk maju. Jika murid memilki gagasan atau
ide maka guru segera memberikan tanggapan positif walaupun gagasan itu
sederhana. Kita harus memahami kodrat anak yang memilki gagasan yang sederhana
karena hal itu sudah sesuai dengan fasenya. Bentuk lain dari apresiasi kepada
murid dengan memberikan kesempatan berkarya untuk kemudian diberikan pujian,
tanggapan positif. Bantulah murid mewujudkan gagasannya melaui kalimat
dukungan, memberi sarana dan wadah ekspresi misalnya lomba karya tulis ilmiah,
lomba membuat pantun, seni tari, seni musik dan lain sebagainya.
Refleksi dan inprovisasi merupakan
kegiatan mereviu kembali tentang proses kegiatan dari awal hingga akhir. Murid mengrefleksikan kelebihan dan kelemahan yang telah dilakukan
.kemudian menemukan hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Cara lain
membangun budaya positif adalah menerapkan kedisiplinan tanpa hukuman. Ciri
anak disiplin yaitu menjalankan aturan tanpa rasa paksaan , melakukan dengan
inisiatif dan kesadaran akan pentingnya melakukan aturan. Sedangkan hukuman
biasanya melakukan pendisiplinan dengan kegiatan yang berakibat murid
kehilangan semangat belajar karena merasa dipermalukan, merasa tidak dihargai,
murid merasa diperlakukan tidak adil. Contoh hukuman adalah mennyuruh murid
melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran kompetensi yang ingin
dicapai. Misalnya guru ingin meningkatkan budaya datang ke sekolah tepat waktu
tetapi memberi hukuman dengan membentak, menjewer telinga, menyiksa fisik.
Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran. Mengenali budaya positif saya merasa ternyata
banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk membudayakan hal hal positif tanpa
harus menyiksa murid dengan hukuman yang dapat membuat anak anak trauma.
Pembelajaran apa saja yang didapatkan saat belajar tentang budaya positif adalah identifikasi
permasalahan murid dengan bijaksana, tentukanlah budaya apa yang ingin
dikembangkan di sekolah, hambatan apa yang dialami jika membangun budaya
piositif.Solusi apa yang dapat ditemukan untuk medukung budaya positif.
Hindarilah penerapan hukuman fisik yang menyiksa dan tidak bermanfaat agar
murid merasa dirinya berharga dan tumbuhkanlah rasa percaya diri melalui
penghargaan terhadap ide dan gagasannya. Sebaiknya guru senantiasa meminta
pendapat murid untuk menumbuhkan nalar kritis murid.
Pelibatan komite sekolah/masyarakat dan orangtua sangat
menentukan keberhasilan di dalam membangun budaya positif di sekolah.
Perubahan ke depannya jika saya ingin membuat perubahan dengan membangun budaya positif maka perlu penghargaan guru
terhadap murid, melakukan budaya secara bersama sama dan terus menerus. Identifikasi
budaya positif yang diharapkan kemudian tentukanlah langkah langkah untuk mencapainya dan tentukan
siapa yang akan mendukung budaya positif serta tentukan kapan dan dimana pelaksanaannya.
SALAM
BAHGIA
suwati,
s.pd
(CGP SMP Negeri 2 polongbangkeng utara kab.takalar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar