Selasa, 13 Juli 2021

REFLEKSI TENTANG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI


Minggu, 04 Juli 2021

BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

 Jurnal minggu ke 8.


Refleksi Tentang Budaya positif di sekolahku


    Kali ini saya belajar tentang budaya positiv budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah pembiasaan baik yang sifatnya ingin memperbaiki sesuatu yang berdampak pada kemajuan sekolah. banyak contoh budaya positif misalnya bergotong royong, menghormati orang lain, senang membaca, disiplin positif. Guru menjadi teladan, melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas. Pendekatan komprehensif, mengapresiasi murid . refleksi secara berkala dan disiplin tanpa hukuman.

    Berbagai cara untuk membangun budaya positif di sekolah misalnya guru mengontrol budaya positif  dengan cara berperan menjadi manajer.Manajer adalah orang yang memfasilitasi murid untuk melakukan kegiatan seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Peran guru sebagai manajer adalah Guru mendorong pelaksanaan perencanaan secara musyawarah mufakat . Musyawarah yang dilakukan murid bertujuan menggali gagasan murid tanpa intervensi guru didalam pengambilan keputusan. Cara membangun budaya positif guru menjadi teladan dimaksudkan murid dapat melihat penerapan budaya positif secara langsung agar murid tidak kehilangan landasan untuk berbudaya positif.Murid merasa memilki kesamaan rasa, kesamaan kedudukan dengan guru .Disanalah murid merasa tidak ada kesenjangan antara murid dan guru. Selain itu pelibatan murid dalam kesepakatan kelas akan mendorong rasa tanggung jawab murid atas apa yang sudah diputuskannya sendiri. Ketika murid memutuskan untuk untuk membuat aturan maka dia akan merasa memilki aturan tersebut dan murid akan merasa sukses jika murid dapat menerapkannya.Pendekatan komprehensif secara bijaksana artinya guru perlu melakukan pendekatan kepada semua pihak baik warga sekolah, orangtua dan masyarakat untuk mengontrol kegiatan membangun budaya positif. Sesuatu hal   yang mempengaruhi karakter murid adalah lingkungan sekolah , lingkungan tempat tinggal dan teman bermain. Murid perlu diapresiasi agar memilki semangat untuk maju. Jika murid memilki gagasan atau ide maka guru segera memberikan tanggapan positif walaupun gagasan itu sederhana. Kita harus memahami kodrat anak yang memilki gagasan yang sederhana karena hal itu sudah sesuai dengan fasenya. Bentuk lain dari apresiasi kepada murid dengan memberikan kesempatan berkarya untuk kemudian diberikan pujian, tanggapan positif. Bantulah murid mewujudkan gagasannya melaui kalimat dukungan, memberi sarana dan wadah ekspresi misalnya lomba karya tulis ilmiah, lomba membuat pantun, seni tari, seni musik dan lain sebagainya.

     Refleksi dan inprovisasi merupakan kegiatan mereview kembali tentang proses kegiatan dari awal hingga akhir. Murid mengrefleksikan  kelebihan dan kelemahan yang telah dilakukan .kemudian menemukan hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Cara lain membangun budaya positif adalah menerapkan  kedisiplinan tanpa hukuman. Ciri anak  disiplin  yaitu menjalankan  aturan  tanpa rasa paksaan , melakukan dengan inisiatif dan kesadaran akan pentingnya melakukan aturan. Sedangkan hukuman biasanya melakukan pendisiplinan dengan kegiatan yang berakibat murid kehilangan semangat belajar karena merasa dipermalukan, merasa tidak dihargai, murid merasa diperlakukan tidak adil. Contoh hukuman adalah mennyuruh murid melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya guru ingin meningkatkan budaya datang ke sekolah tepat waktu tetapi memberi hukuman dengan membentak, menjewer telinga, menyiksa fisik.

     Perasaan (Feelings)apa yang muncul saat proses pembelajaran. Saya merasa Mengenali budaya positif  ternyata banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk membudayakan hal hal positif tanpa harus menyiksa murid dengan hukuman yang dapat membuat anak anak trauma. Disinilah kita dapat Pembelajaran yang didapatkan saat belajar tentang budaya positif adalah identifikasi permasalahan murid dengan bijaksana, tentukanlah budaya apa yang ingin dikembangkan di sekolah, hambatan apa yang dialami jika membangun budaya piositif.Solusi apa yang dapat ditemukan untuk medukung budaya positif. Hindarilah penerapan hukuman fisik yang menyiksa dan tidak bermanfaat agar murid merasa dirinya berharga dan tumbuhkanlah rasa percaya diri melalui penghargaan terhadap ide dan gagasannya. Sebaiknya guru senantiasa meminta pendapat murid untuk menumbuhkan nalar kritis murid.  Pelibatan  komite  sekolah/masyarakat  dan  orangtua  sangat  menentukan  keberhasilan  di  dalam membangun budaya positif di sekolah.

        Dari pengetahuan ini kita dapat melakukan Perubahan ke depannya jika saya ingin membuat perubahan dengan membangun budaya positif maka caranya kita



gambar 1. Menjalin hubungan sosial rekan sejawad


                                  gambar 2. Mendukung peningkatan komptensi warga sekolah



Gambar 3. Memberi perhatian dan bimbingan kepada murid

perlu penghargaan guru terhadap murid, melakukan budaya secara bersama sama dan terus menerus. langkah langkah yang harus dilakukan jika melakukan perubahan adalah 1. Identifikasi budaya positif yang diharapkan.  2.  kemudian tentukanlah  langkah langkah untuk mencapainya. 3.  tentukan siapa yang akan mendukung budaya positif . 4. Tentukan kapan dan dimana pelaksanaannya.


salam bahagia

suwati

CGP SMP Negeri 2 Polongbangkeng Utara

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SALAM BAHGIA

suwati, s.pd

(CGP SMP Negeri 2 polongbangkeng utara kab.takalar)


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 22 Juni 2021

Membangun Budaya Positif di Sekolah

 

Jurnal minggu ke 7.

Refleksi Tentang Budaya positif

Kali ini saya belajar tentang budaya positiv budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah pembiasaan baik yang sifatnya ingin memperbaiki sesuatu yang berdampak pada kemajuan sekolah. banyak contoh budaya positif misalnya bergotong royong, menghormati orang lain, senang membaca, disiplin positif. Guru menjadi teladan, melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas. Pendekatan komprehensif, mengapresiasi murid . refleksi secara berkala dan disiplin tanpa hukuman.

Berbagai cara untuk membangun budaya positif di sekolah misalnya guru mengontrol budaya dengan berperan menjadi manajer.manajer adalah orang yang memfasilitasi murid untuk melakukan kegiatan seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Peran guru sebagai manajer adalah Guru mendorong pelaksanaan perencanaan secara musyawarah mufakat .Musyawarah yang dilakukan murid bertujuan menggali gagasan murid tanpa intervensi guru didalam pengambilan keputusan. Cara membangun budaya positif guru menjadi teladan dimaksudkan murid dapat melihat penerapan budaya positif secara langsung agar murid tidak kehilangan landasan untuk berbudaya positif.Murid merasa memilki kesamaan rasa, kesamaan kedudukan dengan guru .Disanalah murid merasa tidak ada kesenjangan antara murid dan guru. Selain itu pelibatan murid dalam kesepakatan kelas akan mendorong rasa tanggung jawab murid atas apa yang sudah diputuskannya sendiri. Ketika murid memutuskan untuk untuk membuat aturan maka dia akan merasa memilki aturan tersebut dan murid akan merasa sukses jika murid dapat menerapkannya.Pendekatan komprehensif secara bijaksana artinya guru perlu melakukan pendekatan kepada semua pihak baik warga sekolah, orangtua dan masyarakat untuk mengontrol kegiatan membangun budaya positif. Sesuatu hal  yang mempengaruhi karakter murid adalah lingkungan sekolah , lingkungan tempat tinggal dan teman bermain. Murid perlu diapresiasi agar memilki semangat untuk maju. Jika murid memilki gagasan atau ide maka guru segera memberikan tanggapan positif walaupun gagasan itu sederhana. Kita harus memahami kodrat anak yang memilki gagasan yang sederhana karena hal itu sudah sesuai dengan fasenya. Bentuk lain dari apresiasi kepada murid dengan memberikan kesempatan berkarya untuk kemudian diberikan pujian, tanggapan positif. Bantulah murid mewujudkan gagasannya melaui kalimat dukungan, memberi sarana dan wadah ekspresi misalnya lomba karya tulis ilmiah, lomba membuat pantun, seni tari, seni musik dan lain sebagainya.

Refleksi dan inprovisasi merupakan kegiatan mereviu kembali tentang proses kegiatan dari awal hingga akhir. Murid mengrefleksikan  kelebihan dan kelemahan yang telah dilakukan .kemudian menemukan hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Cara lain membangun budaya positif adalah menerapkan kedisiplinan tanpa hukuman. Ciri anak disiplin yaitu menjalankan aturan tanpa rasa paksaan , melakukan dengan inisiatif dan kesadaran akan pentingnya melakukan aturan. Sedangkan hukuman biasanya melakukan pendisiplinan dengan kegiatan yang berakibat murid kehilangan semangat belajar karena merasa dipermalukan, merasa tidak dihargai, murid merasa diperlakukan tidak adil. Contoh hukuman adalah mennyuruh murid melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya guru ingin meningkatkan budaya datang ke sekolah tepat waktu tetapi memberi hukuman dengan membentak, menjewer telinga, menyiksa fisik.

Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran. Mengenali budaya positif saya merasa ternyata banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk membudayakan hal hal positif tanpa harus menyiksa murid dengan hukuman yang dapat membuat anak anak trauma.

Pembelajaran apa saja yang didapatkan saat belajar tentang budaya positif adalah identifikasi permasalahan murid dengan bijaksana, tentukanlah budaya apa yang ingin dikembangkan di sekolah, hambatan apa yang dialami jika membangun budaya piositif.Solusi apa yang dapat ditemukan untuk medukung budaya positif. Hindarilah penerapan hukuman fisik yang menyiksa dan tidak bermanfaat agar murid merasa dirinya berharga dan tumbuhkanlah rasa percaya diri melalui penghargaan terhadap ide dan gagasannya. Sebaiknya guru senantiasa meminta pendapat murid untuk menumbuhkan nalar kritis murid.

Pelibatan komite sekolah/masyarakat dan orangtua sangat menentukan keberhasilan di dalam membangun budaya positif di sekolah.

Perubahan ke depannya jika saya ingin membuat perubahan dengan membangun budaya positif maka perlu penghargaan guru terhadap murid, melakukan budaya secara bersama sama dan terus menerus. Identifikasi budaya positif yang diharapkan kemudian tentukanlah  langkah langkah untuk mencapainya dan tentukan siapa yang akan mendukung budaya positif serta  tentukan kapan dan dimana pelaksanaannya.

 

Jurnal minggu ke 7.

Refleksi Tentang Budaya positif

Kali ini saya belajar tentang budaya positiv budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah pembiasaan baik yang sifatnya ingin memperbaiki sesuatu yang berdampak pada kemajuan sekolah. banyak contoh budaya positif misalnya bergotong royong, menghormati orang lain, senang membaca, disiplin positif. Guru menjadi teladan, melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas. Pendekatan komprehensif, mengapresiasi murid . refleksi secara berkala dan disiplin tanpa hukuman.

Berbagai cara untuk membangun budaya positif di sekolah misalnya guru mengontrol budaya dengan berperan menjadi manajer.manajer adalah orang yang memfasilitasi murid untuk melakukan kegiatan seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Peran guru sebagai manajer adalah Guru mendorong pelaksanaan perencanaan secara musyawarah mufakat .Musyawarah yang dilakukan murid bertujuan menggali gagasan murid tanpa intervensi guru didalam pengambilan keputusan. Cara membangun budaya positif guru menjadi teladan dimaksudkan murid dapat melihat penerapan budaya positif secara langsung agar murid tidak kehilangan landasan untuk berbudaya positif.Murid merasa memilki kesamaan rasa, kesamaan kedudukan dengan guru .Disanalah murid merasa tidak ada kesenjangan antara murid dan guru. Selain itu pelibatan murid dalam kesepakatan kelas akan mendorong rasa tanggung jawab murid atas apa yang sudah diputuskannya sendiri. Ketika murid memutuskan untuk untuk membuat aturan maka dia akan merasa memilki aturan tersebut dan murid akan merasa sukses jika murid dapat menerapkannya.Pendekatan komprehensif secara bijaksana artinya guru perlu melakukan pendekatan kepada semua pihak baik warga sekolah, orangtua dan masyarakat untuk mengontrol kegiatan membangun budaya positif. Sesuatu hal  yang mempengaruhi karakter murid adalah lingkungan sekolah , lingkungan tempat tinggal dan teman bermain. Murid perlu diapresiasi agar memilki semangat untuk maju. Jika murid memilki gagasan atau ide maka guru segera memberikan tanggapan positif walaupun gagasan itu sederhana. Kita harus memahami kodrat anak yang memilki gagasan yang sederhana karena hal itu sudah sesuai dengan fasenya. Bentuk lain dari apresiasi kepada murid dengan memberikan kesempatan berkarya untuk kemudian diberikan pujian, tanggapan positif. Bantulah murid mewujudkan gagasannya melaui kalimat dukungan, memberi sarana dan wadah ekspresi misalnya lomba karya tulis ilmiah, lomba membuat pantun, seni tari, seni musik dan lain sebagainya.

Refleksi dan inprovisasi merupakan kegiatan mereviu kembali tentang proses kegiatan dari awal hingga akhir. Murid mengrefleksikan  kelebihan dan kelemahan yang telah dilakukan .kemudian menemukan hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Cara lain membangun budaya positif adalah menerapkan kedisiplinan tanpa hukuman. Ciri anak disiplin yaitu menjalankan aturan tanpa rasa paksaan , melakukan dengan inisiatif dan kesadaran akan pentingnya melakukan aturan. Sedangkan hukuman biasanya melakukan pendisiplinan dengan kegiatan yang berakibat murid kehilangan semangat belajar karena merasa dipermalukan, merasa tidak dihargai, murid merasa diperlakukan tidak adil. Contoh hukuman adalah mennyuruh murid melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya guru ingin meningkatkan budaya datang ke sekolah tepat waktu tetapi memberi hukuman dengan membentak, menjewer telinga, menyiksa fisik.

Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran. Mengenali budaya positif saya merasa ternyata banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk membudayakan hal hal positif tanpa harus menyiksa murid dengan hukuman yang dapat membuat anak anak trauma.

Pembelajaran apa saja yang didapatkan saat belajar tentang budaya positif adalah identifikasi permasalahan murid dengan bijaksana, tentukanlah budaya apa yang ingin dikembangkan di sekolah, hambatan apa yang dialami jika membangun budaya piositif.Solusi apa yang dapat ditemukan untuk medukung budaya positif. Hindarilah penerapan hukuman fisik yang menyiksa dan tidak bermanfaat agar murid merasa dirinya berharga dan tumbuhkanlah rasa percaya diri melalui penghargaan terhadap ide dan gagasannya. Sebaiknya guru senantiasa meminta pendapat murid untuk menumbuhkan nalar kritis murid.

Pelibatan komite sekolah/masyarakat dan orangtua sangat menentukan keberhasilan di dalam membangun budaya positif di sekolah.

Perubahan ke depannya jika saya ingin membuat perubahan dengan membangun budaya positif maka perlu penghargaan guru terhadap murid, melakukan budaya secara bersama sama dan terus menerus. Identifikasi budaya positif yang diharapkan kemudian tentukanlah  langkah langkah untuk mencapainya dan tentukan siapa yang akan mendukung budaya positif serta  tentukan kapan dan dimana pelaksanaannya.

 

SALAM BAHGIA

Jurnal minggu ke 7.

Refleksi Tentang Budaya positif

Kali ini saya belajar tentang budaya positiv budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah pembiasaan baik yang sifatnya ingin memperbaiki sesuatu yang berdampak pada kemajuan sekolah. banyak contoh budaya positif misalnya bergotong royong, menghormati orang lain, senang membaca, disiplin positif. Guru menjadi teladan, melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas. Pendekatan komprehensif, mengapresiasi murid . refleksi secara berkala dan disiplin tanpa hukuman.

Berbagai cara untuk membangun budaya positif di sekolah misalnya guru mengontrol budaya dengan berperan menjadi manajer.manajer adalah orang yang memfasilitasi murid untuk melakukan kegiatan seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Peran guru sebagai manajer adalah Guru mendorong pelaksanaan perencanaan secara musyawarah mufakat .Musyawarah yang dilakukan murid bertujuan menggali gagasan murid tanpa intervensi guru didalam pengambilan keputusan. Cara membangun budaya positif guru menjadi teladan dimaksudkan murid dapat melihat penerapan budaya positif secara langsung agar murid tidak kehilangan landasan untuk berbudaya positif.Murid merasa memilki kesamaan rasa, kesamaan kedudukan dengan guru .Disanalah murid merasa tidak ada kesenjangan antara murid dan guru. Selain itu pelibatan murid dalam kesepakatan kelas akan mendorong rasa tanggung jawab murid atas apa yang sudah diputuskannya sendiri. Ketika murid memutuskan untuk untuk membuat aturan maka dia akan merasa memilki aturan tersebut dan murid akan merasa sukses jika murid dapat menerapkannya.Pendekatan komprehensif secara bijaksana artinya guru perlu melakukan pendekatan kepada semua pihak baik warga sekolah, orangtua dan masyarakat untuk mengontrol kegiatan membangun budaya positif. Sesuatu hal  yang mempengaruhi karakter murid adalah lingkungan sekolah , lingkungan tempat tinggal dan teman bermain. Murid perlu diapresiasi agar memilki semangat untuk maju. Jika murid memilki gagasan atau ide maka guru segera memberikan tanggapan positif walaupun gagasan itu sederhana. Kita harus memahami kodrat anak yang memilki gagasan yang sederhana karena hal itu sudah sesuai dengan fasenya. Bentuk lain dari apresiasi kepada murid dengan memberikan kesempatan berkarya untuk kemudian diberikan pujian, tanggapan positif. Bantulah murid mewujudkan gagasannya melaui kalimat dukungan, memberi sarana dan wadah ekspresi misalnya lomba karya tulis ilmiah, lomba membuat pantun, seni tari, seni musik dan lain sebagainya.

Refleksi dan inprovisasi merupakan kegiatan mereviu kembali tentang proses kegiatan dari awal hingga akhir. Murid mengrefleksikan  kelebihan dan kelemahan yang telah dilakukan .kemudian menemukan hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Cara lain membangun budaya positif adalah menerapkan kedisiplinan tanpa hukuman. Ciri anak disiplin yaitu menjalankan aturan tanpa rasa paksaan , melakukan dengan inisiatif dan kesadaran akan pentingnya melakukan aturan. Sedangkan hukuman biasanya melakukan pendisiplinan dengan kegiatan yang berakibat murid kehilangan semangat belajar karena merasa dipermalukan, merasa tidak dihargai, murid merasa diperlakukan tidak adil. Contoh hukuman adalah mennyuruh murid melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya guru ingin meningkatkan budaya datang ke sekolah tepat waktu tetapi memberi hukuman dengan membentak, menjewer telinga, menyiksa fisik.

Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran. Mengenali budaya positif saya merasa ternyata banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk membudayakan hal hal positif tanpa harus menyiksa murid dengan hukuman yang dapat membuat anak anak trauma.

Pembelajaran apa saja yang didapatkan saat belajar tentang budaya positif adalah identifikasi permasalahan murid dengan bijaksana, tentukanlah budaya apa yang ingin dikembangkan di sekolah, hambatan apa yang dialami jika membangun budaya piositif.Solusi apa yang dapat ditemukan untuk medukung budaya positif. Hindarilah penerapan hukuman fisik yang menyiksa dan tidak bermanfaat agar murid merasa dirinya berharga dan tumbuhkanlah rasa percaya diri melalui penghargaan terhadap ide dan gagasannya. Sebaiknya guru senantiasa meminta pendapat murid untuk menumbuhkan nalar kritis murid.

Pelibatan komite sekolah/masyarakat dan orangtua sangat menentukan keberhasilan di dalam membangun budaya positif di sekolah.

Perubahan ke depannya jika saya ingin membuat perubahan dengan membangun budaya positif maka perlu penghargaan guru terhadap murid, melakukan budaya secara bersama sama dan terus menerus. Identifikasi budaya positif yang diharapkan kemudian tentukanlah  langkah langkah untuk mencapainya dan tentukan siapa yang akan mendukung budaya positif serta  tentukan kapan dan dimana pelaksanaannya.

 

SALAM BAHGIA

suwati, s.pd

(CGP SMP Negeri 2 polongbangkeng utara kab.takalar)

 

 

 

 

 


 

 

Kamis, 17 Juni 2021

Belajar Budaya Positif di Sekolah


 


Jurnal minggu 6 . Takalar 17 juni 2021 by Suwati, S.Pd.


SAYA BELAJAR BUDAYA POSITIF

    

                                        
                                            
                                                   Gambar 1. Komunikasi yang baik dengan orang tua murid

Melatih berkomunikasi adalah budaya positif yang perlu dikembangkan disekolah. komunikasi yang empati terhadap siapa saja akan menghasilkan respon yang baik bagi orang lain. Budaya positif dapat melalui lisan yang tertata dengan baik dan santun pendidik dapat diterima oleh warga sekolah. Kita dapat  melakukan komunikasi untuk menyatukan ide/gagasan guru sebagai penyambung lidah kepada guru lain agar lebih efektif.meluangkan waktu untuk berbincang bincang akan menyatukan semua pihak. khususnya dalam kerja TIM workshop bimtek di sekolah melibatkan banyak orang.


                    

 

Foto suwati 1.1. komunikasi dengan rekan sejawat

dalam menumbuhkan empati untuk memperkuat semangat kerja

 

 Guru sebaiknya  berusaha mengomunikasikan rencana baik dalam bentuk rencana kegiatan workshop dan bimtek atau segala rencana kegiatan pengembangan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan menggunakan retorika persuasi yang santun . Kepada peserta didik Guru perlu  membiasakan diri berkomunikasi secara santun, misalnya minta tolong, mohon maaf, sapa dengan lembut, mengingatkan dengan nada lembut, berbicara dengan perhatian menatap wajah peserta didik dan mereka merespon dengan wajah senang. Bahagia walau anak anak sesekali lupa dengan intruksi tetapi mereka tetap ceria santun kepada guru karena peserta didik selalu merasa dihargai.                             (Suwati, CGP Kab.Takalar)



Foto suwati 1.2. ekspresi siswa yang merespon guru dengan bahagia


         Momen berkomunikasi dengan murid dapat kita gunakan dalam membangun budaya positif di sekolah, yaitu pada kegiatan refleksi kegiatan pembelajaran,  saling berkomunikasi dengan baik, memberikan apresiasi dan memberi alternatif dalam mencari solusi terbaik. dalam kegiatan sosialisasi merdeka belajar, kita dapat berbagi cerita, mengingatkan kembali masa-masa sekolah yang telah dilewati, memberi gambaran jika akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, dalam mencari pekerjaan, dengan mengingatkan bahwa hal utama yang terlihat dari diri kita adalah perilaku yang baik dan budi pekerti dan sikap yang baik, mengingtakan murid bahwa adab lebih utama. berbagi cerita pada murid dengan cerita motivasi dan inspirasi, bahwa ilmu yang tinggi yang dimiliki oleh seseorang ditandai dengan kerendahan hatinya. Komunikasi ini kami bangn pada saat refleksi, memberi apersepsi pada pembelajaran, pada saat memberi motivasi pada kegiatan ektrakurikuler, dan pada saat murid ingin curhat dengan gurunya. (menurut Endang Patrianingsih, CGP Kab.Takalar)




 




          Foto by suwati 1.3 momen komunikasi yang baik menghasilkan gagasan kreatif

Momen berkomunikasi adalah kunci penting dalam menjalin ikatan emosional dengan peserta didik. Jika kita bisa menyentuhnya dengan kata-kata versi mereka, maka mereka akan dengan senang hati menerima dan merespon dengan positif semua yang kita cakapkan dengan mereka. Dalam keseharian sebagai guru kita perlu memperhatikan hal ini. Dengan demikian akan  ada banyak siswa yang mungkin  menaruh kepercayaan kepada guru  untuk meminta saran dan nasehat untuk pilihan-pilihan masa depannya (menurut M.jufrianto, CGP Kab.Takalar)

          Menggunakan momen berkomunikasi dengan peserta didik sebagai bentuk pengembangan budaya positif. komunikasi dengan murid adalah kunci sukses pencapaian tujuan proses belajar mengajar yang kita lakukan. Apata lagi di kondisi pandemi saat ini. Jika kita tidak mengembangkan budaya komunikasi itu maka bisa saja dengan mudah kita menilai anak negatif. Misalnya jika ada anak yang sebelum pandemi selalu bersemangat dan rajin mengikuti pembelajaran namun sekarang malah sebaliknya maka ketika komunikasi tidak aktif Guru tidak pernah tahu dan memahami apa sebab hal itu terjadi. Komunikasi yang paling sederhana dan bisa mendekatkan kita pada murid adalah dengan menyapa setiap kali bertemu dan menanyakan kabar.(menurut Salma,CGP kab.Gowa)

          Dari pendapat para Calon guru penggerak diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan komunikasi yang baik akan membangun budaya positif di lingkungan sekolah.

 

Selasa, 01 Juni 2021

Nilai Dan Peran Guru Penggerak

 

KONEKSI ANTAR MATERI

 

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

1.     Pemahaman saya mengenai nilai dan peran Guru Penggerak.

Nilai itu sendiri, menurut Rokeach (dalam Hari, Abdul H. 2015), merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil  posisi  khusus  dalam  suatu  masalah evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Nilai yang perlu dimilki seorang guru penggerak adalah nilai Mandiri. Mandiri  berarti seorang Guru Penggerak  mampu senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya. Nilai guru penggerak yang kedua adalah Reflektif berarti seorang Guru Penggerak mampu senantiasa merefleksikan dan memaknai pengalaman yang terjadi di sekelilingnya, baik yang terjadi pada diri sendiri serta pihak lain. Nilai guru penggerak yang ketiga adalah Kolaboratif berarti seorang Guru Penggerak mampu senantiasa membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah (contoh: orang tua murid dan komunitas terkait) dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru penggerak memilki nilai pembelajaran yang Berpihak pada murid disini berarti seorang Guru Penggerak selalu bergerak dengan mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama. Segala keputusan yang diambil oleh seorang Guru Penggerak didasari pembelajaran murid terlebih dahulu, bukan dirinya sendiri

Selain dari pentingnya nilai tersebut pada penjelasan sebelumnya, terdapat pula Peran guru penggerak yang  perlu Menjadi  pemimpin  pembelajaran  untuk   mendorong wellbeing ekosistem pendidikan sekolah. Pemimpin Pembelajaran  berarti   seorang   Guru    penggerak dapat  menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah, dll.  Selain itu peran guru penggerak adalah Menggerakkan komunitas praktik untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Seorang Guru Penggerak berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya. Nilai Kolaborasi adalah guru penggerak Membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru berperan Kepemimpinan Murid Mendorong peningkatan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Peran seorang Guru Penggerak berarti membantu para murid ini untuk mandiri dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter murid di sekolah.

2.     Keterkaitan antara nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Nilai seorang guru penggerak adalah mandiri, inovatif, reflektif, kolaboratif dan berpihak pada murid.Sedangkan peran guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran , menggerakkan komunitas praktik bagi rekan guru, membuka ruang diskusi kolaboratif, kepemimpinan murid untuk menjadi mandiri.nilai dan peran guru sangat erat kaitannya dengan filosofi Ki hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mendapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya. Kita menuntun anak sesuai standar nilai guru penggerak dan menuntun anak sesuai peran mendorong kepemimpinan murid dalam kemandirian.Guru  berusaha mengenali latar belakang sosial  budaya siswa. Melaksanakan  Pembelajaran yang menuntun anak ibarat peta jalan yang akan dilalui oleh anak .di dalamnya terdapat jalan alternatif dan anak bebas memilih jalan mana yang dianggap baik. Kita sebagai pamong hanya dapat menuntun anak bahwa jalan A dan B memilki konsekwensi masing masing. Keputusan tetap ada pada anak anak. Saya mengubah pembelajaran yang sebelumnya berorientasi pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan sekarang lebih menyeimbangkan budi pekerti, pengetahuan dan keterampilan. Hal yang bisa saya terapkan  dalam pembelajaran saya di kelas adalah senantiasa berusaha menerapkan budaya musyawarah dalam membuat kesepakatan kelas. Hal ini saya lakukan pada  setiap memulai pembelajaran. Kebiasaan itu saya tanamkan secara Konsisten guna   menjalankan pendidikan karakter anak. Teknik penanaman karakter sesuai abad 21yakni menghadirkan budaya kreatif, komunikatif, mandiri, kolaboratif dan problem solving. Cara ini kita lakukan supaya tidak mengabaikan kebutuhan dan tuntutan Zaman.  Cara pembentukan karakter dapat pula Dengan komunikasi yang berbudaya lokal seperti pengaplikasian kata kata tebe, senyum,  sapa, dan  salam ketika bertemu teman dan orang lain. Pelestarian budaya lokal sudah menjadi perhatian saya untuk ditanamkan khususnya permainan dolanan anak anak seperti pengenalan permainan longga dalam pembelajaran seni. Longga dapat diambil sebagai strategi pembelajaran yang bermain sambil belajar untuk menyesuaikan kodrat anak yang suka dengan permainan. Saya membiasakan pembelajaran yang membahagiakan dan menerapkan latihan fisik untuk membentuk fisik yang kuat dan bugar. Saya lebih jeli lagi dalam proses pembelajaran yang “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak. {Ki Hadjar dewantara:1922}. Didalam melakukan refleksi setiap menutup pembelajaran perlu pelibatan peserta didik Agar mereka  dapat mengambil hikmah dari semua yang terjadi di dalam kehidupan kita. 

3. Strategi yang bisa dilakukan untuk menjadi Guru penggerak yang  mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan pembelajaran yang berpihak pada murid  adalah senantiasa berbuat sesuatu yang  positif mulai dari diri sendiri sebelum menggerakkan orang lain. Guru perlu  memahami konsep pendidikan yang berpihak pada murid, dan selalu merefleksi kelebihan dan kekurangan diri serta merefleksi proses belajar peserta didik  agar senantiasa belajar sesuai qodrat alam dan perkembangan zaman. Guru perlu mengembangkan diri terutama kemampuan teknologi informasi, mengetahui teknik berkolaborasi yang sesuai dengan pancasila, memahami karakter peserta didik.

4.     Siapa saja pihak yang dapat membantu Guru penggerak dalam mencapai guru penggerak seperti yang dicita citakan sesuai demonstrasi kontekstual sebagai gambaran diri.

Berbagai pihak yang dapat membantu guru dalam mencapai guru yang mandiri, inovatif, reflektif, kolaboratif dan berpihak pada murid adalah peserta didik, warga sekolah termasuk kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, orangtua dan masyrakat serta pemerintah. Peserta didik  adalah subjek yang menjadi sasaran utama untuk dididik menjadi pelajar yang berkarakter sesuai dengan nilai pancasila yakni beriman dan taqwa terhadap Tuhan yang maha esa, berahlaq mulia, mandiri, bernalar kritis, bergotong royong, kreatif dan berkebhinnekaan global.

Kepala sekolah perlu mendukung kegiatan guru penggerak sebagai motivator, pemberi semangat kerja serta memberi fasilitas ruang gerak untuk mewujudkan sekolah yang memilki lingkungan kerja yang kondusif agar dapat mecapai sekolah yang ramah anak, ramah guru dan ramah terhadap masyarakat.Kepala sekolah memilki pengaruh terhadap kebijakan yang diambil khususnya proses pengambilan keputusan kepala sekolah sangat perlu konsisten terhadap budaya positif khususnya pada proses  musyawarah mufakat. Jika kepala sekolah tidak dapat menjadi teladan yang baik sesuai dengan karakter yang diinginkan  nilai pancasila maka guru penggerak akan mengalami  hambatan didalam menwujudkan sekolah yang mampu mencetak pelajar pancasila. Kepala sekolah bagaikan cahaya yang menyinari seluruh warga sekolah. Jika sinarnya redup maka tidak akan cukup menyinari seluruh ruang yang ada di sekolah tetapi sebaliknya jika kepala sekolah dapat bersinar terang maka seluruh sekolah dapat menjadi sekolah yang penuh semangat kerja yang tinggi.

          Pendidik merupakan unsur yang berpengaruh terhadap pendidikan untuk mencetak pelajar pancasila. guru terjun langsung bersama peserta didik berinteraksi dan menjadi model terdekat bagi peserta didik. Oleh karenanya guru perlu menjadi teladan yang  baik sesuai dengan peran dan nilai guru yang mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid. Guru memilki komunitas yang perlu kolaboratif didalam membangun lingkungan belajar yang berpusat pada murid, guru dapat membuat perencanaan dan pelaksanaan belajar yang berpusat pada murid. Guru dapat pula menanamkan pembiasaan refleksi dan perbaikan kualitas belajar yang berpusat pada murid dan guru dapat melakukan pelibatan orang tua untuk menjadi pendamping  dan sumber belajar murid. Guru dapat pula melakukan pemetaan kebutuhan terkait pembelajaran, guru dapat memberdayakan guru lain untuk mendampingi dalam peningkatan kualitas belajar. Guru dapat melatih warga sekolah di dalam menguasai kompetensinya. Guru dapat memimpin pertemuan refleksi berkala untuk perbaikan kualitas belajar mengajar.

       Tenaga kependidikan dan operator sekolah dapat menjadi model yang baik bagi peserta didik, memberi pelayanan yang prima, santun bagi murid.jika tenaga kependidikan khususnya bagian administrasi dapat membantu guru penggerak untuk menyimpan data pokok peserta didik sehingga guru penggerak dapat mudah mengakses hal hal yang berhubungan dengan data peserta didik.tu dapat membantu mengolah data dan bukti terkait proses dan hasil belajar peserta didik.

          Orangtua  peserta didik merupakan subjek yang paling besar pengaruhnya terhadap semangat belajar bagi peserta didik. Oleh karenanya sekolah perlu meningkatkan peran orang tua terhadap pendampingan belajar bagi peserta didik. Misalnya pihak guru dapat mengkomunikasikan jadwal belajar peserta didik,  Membuat group persatuan orangtua siswa, pelibatan orangtua dalam musyawarah komite, orangtua dapat ikut mendapat kesempatan menyampaikan pendapat dan keluhan terhadap pelayanan belajar anaknya.

Salam Bahagia

Suwati, S.pd

CGP KAB. TAKALAR

 

 




 

 

REFLEKSI TENTANG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

by  SUWATI S.Pd.           Bagaimana saya dapat melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi secara lebih efektif? Saya dapat melakukan pr...